Archive for Agustus 12, 2009

MENGAPA DIA MEMILIH AGAMA ISLAM

Kemenangan terbesar dalam hidupku dalam hal agama adalah ketika saya pernah menyadarkan seorang Kristiani menjadi seorang Muslim. Sebenarnya saya bukanlah seorang tamatan sekolah agama. Saya hanya seorang tamatan umum yang sangat rajin memperbandingkan antara agama Islam dengan agama Kristen. Saya juga bukan seorang penyiar agama, tapi saya hanya seorang pedagang biasa. Pernah suatu hari saya menjalin kerja sama dagang dengan seorang China beragama Kristen. Saya tidak pernah bicara agama padanya. Saya tidak pernah memuji agama apapun padanya. Tapi pada suatu hari, dia mencoba mencaci agama saya. Entah itu ia sengaja, atau karena fanatiknya yang tinggi, sayapun tidak tahu. Dia mengatakan bahwa Islam tidak bersahabat. Tidak mau memakan makanan masakan Non Muslim. Padahal Non Muslim mau memakan masakan Muslim. Tapi saya terus menerangkan bahwa sebenarnya Islam mau memakannya. Tapi harus sesuai dengan tata cara memasak dalam ajaran yang ada pada kitab Islam. Kutanya apakah ia mau mengetahui sebab sebabnya. Setelah ia setuju, sayapun langsung menerangkannya. Islam hanya mau memakan sayuran yang dicuci bersih, daging yang disembelih dengan nama Allah. Bukan daging binatang yang mati karena terjatuh, bukan yang mati karena tertanduk binatang lain, sebab kalau mati bukan karena tersembelih, bisa saja karena penyakitan atau bisa saja daging itu binatang yang sudah jadi bangkai dan dijual lagi hingga akan mengakibatkan konsumen jadi penyakitan. Lagi pula agama Non Muslim bisa saja mencampurkan unsur babi dalam makanan itu. Padahal dalam Islam dan juga dalam perjanjian lama sudah benar bahwa babi haram dimakan. Karena itu Islam tak mau memakan makanan Non Muslim.
Bukan hanya masalah makanan akhirnya yang kami bahas. Bahkan kami membahas lagi tentang ketuhanan. Kuterangkan Tuhan agama Islam adalah Tuhannya alam semesta. Yang maha kuasa, maha pengasih dan maha penyayang. Dan kukatakan juga bahwa saya tidak mau mempercayai agama yang Tuhannya tidak saya mengerti. Lama sekali kami mengobrol, bahkan disambung di setiap kami bertemu. Dari pertemuan kami yang banyak, akhirnya ia melihat bahwa ketuhanan Islam lebih logika dari ketuhanan agama yang ia anut. Hingga suatu hari akhirnya ia memilih Islam sebagai agamanya. Andainya saya punya waktu, saya akan katakan semua. Tapi waktu saya sangat sempit. Anda saya sarankan saja mempelajari Islam lebih dalam.
Profil penulis: Klik disini
Terima kasih

Iklan

Comments (2) »

SIFAT ORANG MANDAILING

Sifat sifat Batak Mandailing.
Saya bukanlah seorang asli Mandailing. Tapi akibat perkawinan lintas budaya antara ibu dan bapakku, jadinya saya sudah punya darah Mandailing walaupun bukan tulen. Dan saya sendiri dilahirkan di Mandailing Jae dan dibesarkan di tanah Mandailing Godang.
Karena saya lahir dan dibesarkan di tanah Mandailing, jadi saya banyak tahu tentang sifat sifat orang Mandailing. Batak mandailing bahasanya lebih halus dan lebih lembut dari Batak Toba. Walaupun sebenarnya orang Mandailing berasal dari Toba. Perangainya juga lebih lembut dan tidak kasar, tapi tidak penakut. Orang Mandailing biasanya berani berkelahi di luar daerahnya walaupun sedang sendiri. Tidak suka mengeroyok kecuali dalam keadaan terpaksa. Orang Mandailing hampir 100 percen beragama Islam dan termasuk penganut agama yang cukup taat.
Orang Mandailing sangat menghormati perbedaan. Buktinya tidak pernah terjadi perkelahian antar agama di Tanah Mandailing. Banyak yang saya puji dalam sifat sifat orang Mandailing. Orang Mandailing tidak suka mencuri. Buktinya jarang terjadi perampokan, pencurian maupun penodongan di daerah Mandailing. Bahkan sering saya bandingkan di beberapa daerah di luar Mandailing, bila ada truck jatuh, maka orang orang setempat akan menjarah muatan truck itu. Saya tak perlu mengatakan di daerah mana saya sering lihat. Sebab itu hanya akan memburukkan suku yang lain. Tapi yang jelas saya tidak pernah mendengar bahwa penduduk Mandailing mau menjarah orang yang kecelakaan. Banyak kebaikan kulihat dalam suku Mandailing. Dalam dunia dagang, orang Mandailing juga sangat pandai dan pintar. Telah kulihat bahwa banyak daerah pasar di kota lain yang telah dikuasai pendatang China. Baik di daerah kecamatan maupun di kabupaten. Tapi di daerah Mandailing, sektor ekonomi benar benar dikuasai penduduk asli Mandailing. Di kabupaten maupun di kecamatan, apalagi di pedesaan. Memang sangat banyaklah kulihat sifat unggul yang ada di suku Mandailing. Orang Mandailing biasanya sangat ulet dan yang lebih dominan, orang Mandailing itu sangat pemberani dan tidak penakut. Kalau penilaian pada kaum perempuan, satu sifat yang cukup terpuji di suku Mandailing, wanita Mandailing adalah wanita yang cukup setia. Sangat setia dibanding suku suku lain. Itulah penilaian saya pada komunitas Batak Mandailing.

Pemilik blog ini adalah penulis buku 40 Hari Di Tanah Suci.
Ingin lihat profil penulis: Klik disini

Comments (9) »

SENYUM DI ATAS SEPEDA TUA

't4ñZ' Fhøtø(753)Saya tertawa sendiri ketika menaiki ojek sepeda angin itu. Heran kenapa tidak ada angkutan bus kota di jalan Ancol Barat I itu. Mulanya saya kesana karena temanku bekerja di Indomaret. Saya ingin tahu lebih banyak mengenai cara Indomaret ini dalam dunia business. Tapi begitu saya berhenti di perempatan jalan di bawah jembatan layang Ancol, (tidak sampai ke Sunter bila datang dari Senen). Saya terus pergi ke seorang pedagang kaki lima penjual rokok dan mimuman dingin. Disini saya bertanya bagaimana agar sampai ke jalan Ancol Barat I no 9 tempat temanku bekerja. Lalu ia mengatakan bahwa jarak dari tempat kami hingga ke tempat yang saya tanya tadi ada sekitar tiga kilo meter. Masih jauh dan masih banyak belok beloknya. Lalu ia mengatakan agar saya naik ojek saja. Mulanya saya menyangka bahwa yang ditawarkannya adalah ojek motor roda dua. Tapi ketika ia menunjuk ke satu tumpukan tukang ojek, rupanya yang ia maksud adalah ojek sepeda angin. Waduh… Saya langsung terdiam. Mungkin saya akan merasa malu naik ojek sepeda angin. Terakhir saya naik sepeda seperti itu ketika saya mengunjungi tobangku di desa asal ayahku di Sumut. Tobangku membawaku ke kebun rambutannya dengan sepeda angin. Barangkali sudah 29 tahun lamanya. Yaitu ketika saya masih duduk di kelas tiga SD. Jadi hari ini saya ditawari untuk naik sepeda angin. Tapi saya tak mau. Tak mungkin tak ada ojek motor di Ancol ini. Kutunggu beberapa saat. Memang ternyata tidak ada ojek atau angkutan apapun di lokasi ini kecuali ojek sepeda angin. Memang kalau pagi dan sore, kata orang setempat akan banyak ojek motor. Sebab daerah tujuan saya itu adalah daerah kawasan industri. Jadi ada banyak karyawan yang mau pulang pergi bekerja. Tapi ketika saya ada di kawasan pabrik ini, kebetulan masih jam 12 siang. Tidak tepat sebagai waktu datang dan pulangnya para karwawan. Jadi hanya ada ojek sepeda angin. Lalu pikir punya pikir, dari pada tidak bertemu temanku, akhirnya saya bersedia naik ojek sepeda itu dengan ongkos Rp 8.000. Saya tertawa sendiri jadinya. Sungguh ini sesuatu yang menggelikan. Barangkali saya termasuk yang sombong. Tapi saya tidak merasa demikian. Tapi memang saya tidak terbiasa naik sepeda tua seperti ini. Apalagi di kota metropolitan. Tapi sopir ojek mengatakan bahwa hampir semua karyawan di Ancol Barat ini juga begitu. Jadi saya tidak perlu merasa malu. Apalagi saya butuh info swalayan dari teman.

Profil penulis: Klik disini

Comments (2) »