SENYUM DI ATAS SEPEDA TUA

't4ñZ' Fhøtø(753)Saya tertawa sendiri ketika menaiki ojek sepeda angin itu. Heran kenapa tidak ada angkutan bus kota di jalan Ancol Barat I itu. Mulanya saya kesana karena temanku bekerja di Indomaret. Saya ingin tahu lebih banyak mengenai cara Indomaret ini dalam dunia business. Tapi begitu saya berhenti di perempatan jalan di bawah jembatan layang Ancol, (tidak sampai ke Sunter bila datang dari Senen). Saya terus pergi ke seorang pedagang kaki lima penjual rokok dan mimuman dingin. Disini saya bertanya bagaimana agar sampai ke jalan Ancol Barat I no 9 tempat temanku bekerja. Lalu ia mengatakan bahwa jarak dari tempat kami hingga ke tempat yang saya tanya tadi ada sekitar tiga kilo meter. Masih jauh dan masih banyak belok beloknya. Lalu ia mengatakan agar saya naik ojek saja. Mulanya saya menyangka bahwa yang ditawarkannya adalah ojek motor roda dua. Tapi ketika ia menunjuk ke satu tumpukan tukang ojek, rupanya yang ia maksud adalah ojek sepeda angin. Waduh… Saya langsung terdiam. Mungkin saya akan merasa malu naik ojek sepeda angin. Terakhir saya naik sepeda seperti itu ketika saya mengunjungi tobangku di desa asal ayahku di Sumut. Tobangku membawaku ke kebun rambutannya dengan sepeda angin. Barangkali sudah 29 tahun lamanya. Yaitu ketika saya masih duduk di kelas tiga SD. Jadi hari ini saya ditawari untuk naik sepeda angin. Tapi saya tak mau. Tak mungkin tak ada ojek motor di Ancol ini. Kutunggu beberapa saat. Memang ternyata tidak ada ojek atau angkutan apapun di lokasi ini kecuali ojek sepeda angin. Memang kalau pagi dan sore, kata orang setempat akan banyak ojek motor. Sebab daerah tujuan saya itu adalah daerah kawasan industri. Jadi ada banyak karyawan yang mau pulang pergi bekerja. Tapi ketika saya ada di kawasan pabrik ini, kebetulan masih jam 12 siang. Tidak tepat sebagai waktu datang dan pulangnya para karwawan. Jadi hanya ada ojek sepeda angin. Lalu pikir punya pikir, dari pada tidak bertemu temanku, akhirnya saya bersedia naik ojek sepeda itu dengan ongkos Rp 8.000. Saya tertawa sendiri jadinya. Sungguh ini sesuatu yang menggelikan. Barangkali saya termasuk yang sombong. Tapi saya tidak merasa demikian. Tapi memang saya tidak terbiasa naik sepeda tua seperti ini. Apalagi di kota metropolitan. Tapi sopir ojek mengatakan bahwa hampir semua karyawan di Ancol Barat ini juga begitu. Jadi saya tidak perlu merasa malu. Apalagi saya butuh info swalayan dari teman.

Profil penulis: Klik disini

Iklan

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    Abdul said,

    Asyik donk bro naik ojek sepeda onthel, nggak bising, jalannya tenang dan yang penting sampai ditujuan, betul nggak bro.

  2. 2

    ashartanjung said,

    Betul juga. Tapi namanya Jakarta, teman. Semua pada menuju mewah, tapi kita kesana menuju sepeda tua. Makanya saya jadi tertawa sendiri, basyid


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: