Archive for Agustus 6, 2009

BINATANG TELEGU DAN KESUNYIAN MALAM

Ketika mobil kami melaju sampai 50 km dari Lubuk Linggau, kami kembali mengisi bahan bakar bensin seharga Rp 100.000. Sesudahnya sopir saya minta izin untuk tidur karena tak tahan lagi dengan rasa kantuknya. Tapi saya terus mengambil alih kemudi. Saya yang akhirnya menyetir mobil sejak jam 9.15 malam ini. Saya terus yang jadi sopir hingga tiba di Singkut, terus lagi menuju Saro Langun pada malam itu. Lalu ketika melihat sopir yang masih kelelahan dan tidur, akhirnya saya terus menyetir hingga kota Bangko yang berjarak 70 sekian km dari Saro Langun. Ketika melewati kota Bangko, kulihat sopir saya masih tertidur, hingga akhirnya mobil terus saya jalankan hingga sampai di kota Muara Bungo Jambi dengan jarak 76 pula. Di perbatasan ini saya punya pengalaman baru. Ketika ada menyebar bau yang sangat menyegat ke hidung kami, sopir langsung terjaga dari tidurnya. Rupanya di daerah ini sangat banyak ditemui binatang telegu. Bau binatang ini lebih jelek dari bau kentut. Entah bagaimana bentuk binatangnya saya tidak tahu. Tapi yang jelas saya sudah tahu bau binatang telegu.
Dalam perjalanan ini, saya benar benar agak merasa takut. Kendaraan jarang berpapasan dengan kami. Kalaupun ada selalu berkonvoi. Sepertinya kami sedang berada di hutan rimba yang amat luas. Sopir tertidur, hanya saya yang terbangun di malam yang menegangkan itu. Sampai sampai rokokku kuisap dan bersambung tanpa henti. Saya sempat bernyanyi di kesunyian malam itu. Saya menyanyikan lagu Atiek Cb dan Roni Sianturi yang berjudul Love will lead you back, kemudian lagu Anggun C Sasmi, lagu When I Need You, hingga sopir saya terbangun karena hpnya berbunyi. Istri sayapun tiba tiba meneleponku. Dia bertanya apakah kami sudah lewat daerah rawan perampokan. Sebenarnya belum lewat, tapi saya takut bila dia kawatir dan tidak tidur. Kukatakan saja bahwa kami sudah berada di tempat aman. Padahal kami masih berada di tempat yang cukup rawan.
Begitulah hingga akhirnya tiba di Muara Bungo pada jam 12.10. Disinilah baru saya berhenti mengemudi. Kami singgah di sebuah kedai truck yang buka siang malam. Disinilah kami istirahat selama dua jam. Begitulah kisah kami hingga kini sudah berada di daerah aman.

Oleh penulis buku: 40 HARI DI TANAH SUCI (berisi pengalaman saat berhaji).
Bila anda ingin mendapatkan bukunya:
KLIK DISINI
Terima kasih.

Iklan

Comments (3) »

DI AWAL MALAM DI LUBUK LINGGAU

Sepanjang jalan Lintas Timur Lahat yang kami lalui, benar benar boleh dibilang tidak ada lagi mobil maupun truck dengan plat BA Sumbar, BL Aceh, BB Tapsel dan Mandailing Natal serta BK Medan. Sepanjang sekitar 500 km yang kami lalui, hanya ada plat BG Palembang dan BD Bengkulu. Warung warung makan untuk truck banyak yang tutup karena tidak adanya mobil yang lewat dari propinsi lain di daerah ini. Memang begitulah keadaan jalan Lintas Sumatera Lahat ini. Padahal dahulu jalan ini amat ramai dilalui truck dan mobil dari daerah lain. Tapi sekarang tidak lagi ramai. Apalagi kalau untuk melintas daerah ini di malam hari. Para sopir lebih memilih untuk menginap di kedai truck dari pada berjalan malam di kesunyian jalan malam daerah ini.
Pada siang hari saja tidak ada lagi kawan sekampung. Apalagi kalau kami harus melintasi daerah ini di malam hari.
Kata sopirku, lebih banyak sekarang mobil dan truck melintas dari jalan Barat yang melalui kota Palembang dan Jambi dari pada jalan Lahat ini. Begitulah keadaan perjalanan yang kami lalui. Tak dapat kubayangkan lagi bagaimana ramainya bila sekiranya kami melintas dari Jalan Barat Sumatera.
Begitulah akhirnya pada jam 4.30, kami telah tiba di Lubuk Linggau Sumsel. Sesampai disini, sudah jelas kami akn tiba di daerah aman sekitar 100 km lagi. Sekarang kami sedang mencari atm Bank Mandiri untuk mengambil uang jalan tambahan, sebab uang di saku sudah hampir kandas. Setelah uang didapat, masih kusempatkan membeli mainan di swalayan terdekat buat buah hati di kampung setiap hari tak pernah absen menelepon saya dari kejauhan melebihi 2.000 km. Sehabis sholat Jama taqdin di restaurant Simpang Raya Lubuk Linggau, kami kembali melanjutkan perjalanan pada jam 6.20 malam. Sopir mengambil kemudi dan mengatakan agar dialah dulu yang mengemudi hingga daerah Rumpit. Sehabis rumpit, katanya akan aman aman saja menurut biasanya. Aman ke Saro Langun dan aman jugalah hingga sampai ke Muara Bungo, tempat kendaraan jalur lintas timur dan jalur lintas barat akau bertemu dan berada di jalan raya yang sama. Yang berjarak kurang lebih 250 dari Lubuk Linggau tempat kami masih berada di awal malam ini.

Oleh penulis buku: 40 HARI DI TANAH SUCI (berisi pengalaman saat berhaji).
Bila anda ingin mendapatkan bukunya:
KLIK DISINI
Terima kasih

Leave a comment »

PERJALANAN DI LAHAT

't4ñZ' Fhøtø(938)

Tepat jam 2 sore kami telah tiba di Kota Lahat Sumatera Selatan. Disini kami menambah minyak untuk ketiga kalinya sejak start dari Jakarta. Di Kali malang kami beli bensin seharga Rp 236.000. Kemudian mengisi minyak lagi di Lampung Utara seharga 175.000. Di Lahat ini yang ketiga kalinya. Yaitu seharga 100.000. Dengan demikian perjalanan kami sudah mencapai 40 percent dari jalan yang akan kami lalui.
Suasana hari begitu panas di hari ini. Tak pernah hujan, tak pernah mendung. Mulai dari Jakarta kemarin, Batu Raja, Bandar Jaya, Kemuning, Tanjung Enim, Muara Enim hingga sekarang sudah sedang ada di daerah Lahat dan tepat di kota LAHAT. Yang terkenal di kalangan sopir bahwa ini daerah rawan perampokan. Sayapun sebenarnya tidak pernah melihat buktinya. Tapi bagi orang yang mondar mandir di daerah Lahat selalu mengatakan bahwa daerah Lahat sangat rawan tindak kejahatan. Tujuan kota selanjutnya adalah kota Tebing Tinggi, Lubuk Linggau. Bila perjalanan melintasi daerah Lubuk Linggau sejauh 150 km telah usai, maka daerah aman sudah mulai tiba.
Ketika kukatakan pada istriku di Sumatera Utara tentang lokasi yang sedang kami tempuh, dia tak lupa mengirim sms untuk menyampaikan bahwa ia pun berdo’a agar kami akan aman aman saja di perjalanan.
Hutan ilalang yang memanjang terus saja kami lalui. Semoga Tuhan mengabulkan do’a istriku nantinya.

Oleh penulis buku: 40 HARI DI TANAH SUCI (berisi pengalaman saat berhaji).
Bila anda ingin mendapatkan bukunya:
KLIK DISINI
Terima kasih.

Comments (1) »