Archive for Agustus 8, 2009

ASAL USUL MARGA TANJUNG YANG SEBENARNYA

Saya mendapat banyak informasi tentang marga Tanjung di Solok dan kota lainnya di Sumatera Barat. Banyak orang mengakui bahwa marga Tanjung tidak termasuk marga, suku, turunan asli Minang Kabau. Tanjung adalah marga pendatang ke Sumatera Barat. Kemungkinan marga ini berasal dari Barus, Tapanuli Tengah Sumatera Utara. Namun budaya Tanjung di Sumatera Barat sudah beradaptasi dengan budaya di ranah Minang. Tapi yang jelas, Tanjung bukan penduduk asli Sumatera Barat. Itu terbukti dengan tidak adanya tanah adat orang bermarga Tanjung di Padang dan seluruh Sumatera Barat. Kalaupun ada, itu karena dìbeli. Bukan karena warisan keturunan.
Selama ini saya menyangka bahwa Tanjung berasal dari Padang adalah berlainan dengan yang di Sumatera Utara. Tapi rupanya keduanya satu keturunan. Yaitu bersaudara atau sabitua dengan marga Pasaribu dan Lubis di Tapanuli Sumatera Utara. Begitulah cerita yang saya dapatkan di Ranah Minang ini. semoga akan banyak yang memahaminya. Bila ingin pembuktiannya, bisa saja diperoleh di petinggi petinggi adat di Minang.
Rupanya mula pertama adanya marga atau suku Tanjung di Sumatera Barat, itu karena datangnya pada zaman dahulu ‘Boru Tanjung’ dari Barus ke pesisir Padang. Lalu karena garis keturunan marga diambil dari garis ibu di Minang di daerah ini, karena itu semua turunan boru Tanjung yang hijrah ke pesisir padang ini menurunkan marga Tanjung. Hingga marga Tanjung menjadi banyak di Sumatera Barat walaupun tidak dominan.
Dengan adanya tulisan ini, akan sangat membantu keturunan Tanjung tentang siapa saudara seketurunannya. Anda akan tahu dari mana Tanjung Sumatera Barat berasal. Anda akan tahu apa dan siapa saudara marga Tanjung, anda akan tahu kenapa ada Marga Tanjung di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, dan apa hubungan marga di dua tempat itu.

Oleh penulis buku: 40 HARI DI TANAH SUCI (berisi pengalaman saat berhaji).
Bila anda ingin mendapatkan bukunya:
KLIK DISINI
Terima kasih.

Iklan

Comments (52) »

BERJUMPA KEMBALI DENGAN KELUARGA

Sekitar 1 jam setelah kami berangkat dari kota Bukit Tinggi, tiba tiba sopir membangunkan saya. Rupanya kami telah berada di Pertamina Palupuh Sumatera Barat. Kami mengisi minyak lagi di sore ini seharga Rp 189.000, setelah tadi malam sekitar jam 1 tengah malam kami menambah minyak mobil pada seharga Rp 175.000 di daerah propinsi Jambi. Sejak ini saya tidak tidur lagi. Saya terus mengobrol dengan Pahrul sopir yang berasal dari Benteng Huraba Tapanuli Selatan ini. Kami terus melewati beberapa kota seperti Lubuk Sikaping, Panti, Tapus, Rao, hingga akhirnya kami tiba di daerah Bukit Dua Baleh di saat suasana menjadi gelap karena datangnya malam.
Setelah kami melewati satu kecelakaan truck Colt Diesel yang jatuh terjungkal bersama muatannya di
Tengah jalan raya, kamipun akhirnya tiba di Muara Sipongi. Yaitu tempat benteng perbatasan Sumatera Barat dan Sumatera Barat. Setibanya di tempat ini, sampailah kami di propinsi sendiri. Walaupun belum tiba di kampung halaman. Telepon anak anakku berdering setiap saat. Kadang anakku yang sulung, yang nomor dua, nomor empat, tapi tidak pernah yang nomor tiga. Istri saya juga menelepon saya, bahkan juga kakak perempuan saya yang menyengaja datang ke rumah saya untuk menunggu kedatangan saya dari Kota Jakarta. Perjalanan terus saja kami lanjutkan hingga tiba di desa Tamiang, Kota Nopan, Laru, dan sempat lagi kami makan di sebuah rumah makan besar di Aek Marian. Selesai mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di Maga, Bangun Purba, Purba Baru. Hingga pada jam 10.30 Jum’at malam, saya tiba di rumah. Kudapati kembali keluargaku yang kusayangi dan tempat aku menambatkan kehidupanku. Anak anakku sudah nampak rindu padaku. Istriku juga nampak sangat bahagia menyambut kedatanganku. Demikian juga halnya dengan semua yang menunggu kedatanganku. Jadi malam ini saya kembali bersama istri dan anak anak. Kurasakan, rumahku adalah puriku, rumahku adalah sorgaku.
Begitulah kisah perjalanan saya. Ketika kami sampai, stok bensin saya mungkin bersisa sekitar harga Rp 150.000 lagi. Terima kasih banyak.
Oleh penulis buku: 40 HARI DI TANAH SUCI (berisi pengalaman saat berhaji).
Bila anda ingin mendapatkan bukunya:
KLIK DISINI
Terima kasih.

Leave a comment »

WAKTU JUM’AT DI BUKIT TINGGI

Sesampai di kota Bukit Tinggi, kami sudah merasa sangat lapar sekali. Kami memutar mutar ke sana kemari. Jam sudah menunjukkan jam waktu Jum’at. Rupanya sangat jarang ada ditemui rumah makan yang open di waktu sholat Jum’at. Kecuali restaurant restauran China yang banyak bertebaran di kota ini. Hampir 1 jam kami mondar mandir di kota ini, barulah kami menemukan kedai nasi Ampera Mintua di sebuah alun alun di depan Bank Sariah Mandiri Bukit Tinggi. Lama sekali mencari rumah makan ini. Sampai sampai ketika pelayan kedai nasi menyuguhkan makanan buat kami, rombongan jamaah Jum’at sudah mulai nampak berjalan di jalan raya karena sudah pulang sholat.
Seusai makan, kami terus ke swalayan Bukit Tinggi. Tepat di samping jam Gadang Bukit Tinggi yang terkenal di seantero persada nusantara. Disini saya sempat membeli roti dan buah buahan buat oleh oleh untuk dibawa pulang. Kemudian saya bahkan menyempatkan diri untuk mencari toko buku sebagai tambahan penyalur buku saya berjudul ’40 HARI DI TANAH SUCI’. Tapi karena saya terlalu capek karena tidak tidur semalaman buat menyetir, akhirnya saya membatalkan mencari toko buku setelah beberapa ruas jalan saya lalui dan saya belum menemukan toko buku. Tak jadi kucari penyalur tambahan buku saya di kota ini. Saya akhirnya kembali ke mobil yang dari tadi kuparkir di lantai bawah tanah swalayan di samping Istana Sukarno Bukit Tinggi Sumatera Barat. Sesudahnya, kami mulai menuju pulang ke kampung halaman yang ada di propinsi terdekat Sumatera Utara.

Oleh penulis buku: 40 HARI DI TANAH SUCI (berisi pengalaman saat berhaji).
Bila anda ingin mendapatkan bukunya:
KLIK DISINI
Terima kasih.

Leave a comment »