KASIHAN JAKARTA. BAGAIMANA MENGATASI RAWAN BANJIR INI

Kasihan dengan banjir Jakarta. Jalan raya hampir tak bisa dipakai, banyak orang tak bisa cari makan, banyak penduduk yang harta bendanya basah dan jadi tak berguna. Rawan banjir terus menghadang, mungkinkah akan lebih baik tahun tahun ke depan? Sudah tepatkan rancangan pemerintah maupun rancangan gubernur Jokowi akan tindakan mengatasi banjir ini? Saya sebagai penulis blog ini punya cerita yang mungkin berguna buat anda yang ingin mengatasi banjir dimanapun anda berada. Sebenarnya daerah sayapun daerah rawan kebanjiran di Mandailing Natal. Tapi semua ini bermula dari tidak teraturnya pembangunan perumahan di hilir rumah saya. Dulu selagi lurah yang memimpin daerah kami merupakan putra daerah, yang tahu banyak tentang daerah kami, lokasi kami tidak pernah kebanjiran. Pernah saya melihat dia memarahi seorang tuan tanah yang sedang membangun. Pemilik tanah ini membangun pondasi rumahnya hingga menyempitkan parit disekitar 30 cm. Pak lurah ini mengatakan agar pondasi kembali dibongkar. Jangan mempersempit parit. Pemilik tanah menunjukkan surat tanahnya dan ia tidak membuat pondasi di atas parit, tapi ia membangun di tanahnya sendiri. Tapi walau begitu, pak lurah tetap tak memperbolehkan penyempitan parit. Begitulah pak lurah kami memimpin sehingga tidak ada banjir. Tapi sayang ia cuma memimpin 15 tahun. Lurah selanjutnya sudah punya misi dan visi yang beda. 5 tahun saja pembangunan yang menyempitkan parit dan selokan tak dihiraukan, kebanjiran sudah mulai menghajar kami pada hampir setiap datang hujan. Tv dan lainnya diangkat setiap datang hujan. Pikiran tak lagi tenang tiap hujan. Ini salah satu yang perlu dipikirkan. Ini salah satu yang penting untuk dipikirkan para pemimpin. Jangan sampai banjir makin melanda. Lalu pada tahun tahun terakhir ini, penggalian parit mulai dilakukan sebagai penanggulangan banjir. Disinipun adalagi permasalahan. Rupanya pihak pemerintah telah punya perjanjian dgn pihak pemborong penggalian parit. Berapa meter kedalaman yang mereka janjikan. Disinipun banyak pelanggaran. Kedalaman penggalian ternyata tidak sesuai. Dan yang digali hanya yg dekat ke jalan raya. Saya sudah pernah mempermasalahkan ini 2 tahun yang lalu. Memang pemborong dan pemeriksa sempat membenci saya. Tapi tetap saya adukan ke kantor PU. Beginilah hingga akhirnya penggalian jadi sesuai. Inipun perlu jadi pemikiran bagi pemerintah dan juga bagi penduduk yang bermukim di daerah rawan banjir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: