POTRET BUS KOTA DARI TANAH ABANG TUJUAN PULO GADUNG.

Kalau dua tahun yang lalu saya ke Jakarta ini, banyak pengamen saya temui di bus kota. Ada yang bernyanyi dangdut beramai ramai, ada yang sendiri dan ada juga yang berdua. Ada yang menyanyikan lagu lagu pop dan berbagai tembang yang dianggap menghibur, baru kemudian meminta sedekah pada para penumpang. Tapi kalau dalam bus Damri, saya tidak menemui pengamen seperti yang saya ceritakan. Damri melaju dengan tenangnya membawa penumpang yang mampu membayar ongkos Rp 20.000 sekali jalan. Bus nya punya ac, jalan yang dilalui jalan toll dan semuanya begitu nyaman. Sangat berbeda dengan bus kota yang besar. Seperti misalnya bus Ppd 916 dari Tanah Abng tujuan Matraman. Begitu juga dengan 507 dari Tanah Abang tujuan Pulo Gadung. Demikian juga halnya dengan bus kota yang berukuran yang lain.
Mengenai pengamen yang sudah tidak ada di bus besar saya saksikan pada tanggal 03 Juli yang lalu. Tapi kalau di kereta api seperti route Sudimara – Tanah abng tetap saja ada. Saya hanya menceritakan mengenai di bus kota.
Ketika saya di bus kota itu, hati saya merasa sedih mendengar kata kata seorang laki laki yang tiba tiba masuk dalam bus yang saya tumpangi. Dia mengatakan semua tentang deritanya dalam sebuah ceramah singkat di bus itu. Antara lain kata kata yang ia ucapkan adalah: Maaf bapak bapak ibu ibu. Saya tidak bermaksud mengganggu perjalanan anda semua. Saya hanya ingin memperkenalkan siapa diri saya dan juga mengharapkan uluran tangan bapak dan ibu yang hidupnya lebih bahagia dari saya.
Sebenarnya saya seorang yang melarat. Datang ke Jakarta ini untuk mengadu nasib dan mengharapkan yang lebih baik. Tapi beginilah yang saya dapatkan. Saya belum punya pekerjaan. Saya belum bisa mencukupi kebutuhan hidup saya sendiri. Sebenarnya saya merasa malu menjadi seorang pengemis seperti ini. Tapi saya memberanikan diri untuk meminta minta demi mempertahankan hidup. Saya tahu kita semua sama. Bapak bapak dan ibu ibu sama dengan saya. Hanya nasiblah yang membedakan. Saya tidak bermaksud menghalangi perjalanan semua. Saya bahkan turut mendoakan agar semua selamat sampai tujuan. Tapi izinkanlah saya meminta walau sedikit. Dengan mengharapkan kemurahan hati semua, saya sangat membutuhkan bantuan semuanya.
Itulah kira kira kutipan ucapan seorang pengemis berbadan tegap dan bertato dalam bus yg saya tumpangi. Selesai dia mengutip sedekah dari semua, datang lagi laki laki lain dengan lain cerita. Selesai yg ini, muncul lagi yang baru hingga tujuan sampai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: