BATAS KEWAJIBAN SI AYAH MENDIDIK ANAK

Sampai dimana sebenarnya kewajiban seorang ayah mendidik anaknya. Fardu Ain adalah suatu ilmu yang wajib diajarkan si ayah pada anaknya. Tapi di zaman sekarang, sudah banyak guru guru agama Islam yang bersedia membantu kita untuk mengajari anak anak. Dan sudah banyak sekolah sekolah madrasah yang bersedia membantu mengajar fardu ain. Kita hanya membeli pakaian seragam sekolah, membayar biaya bulanan sekolah, dan anak kita sudah akan diajari sampai tamat. Sudah cukupkah begitu? Apakah dgn membayar biaya bulanan sekolah sampai anak kita tamat akan membuat kita lepas dari kewajiban mendidik anak?
Tidak.
Perlu anda ketahui, bahwa guru agama hanya membantu kita mengajari anak anak kita. Tapi kitalah yang bertanggung jawab mengajarinya. Kalau anak kita sudah tamat sekolah agama, kita mesti mengetesnya apakah dia sudah benar benar mengerti. Apakah dia sudah benar benar menguasai fardu ain. Kita panggil agar kita test satu persatu. Jika sudah lolos dgn pengetahuan pardu ain, maka kita sudah dianggap lepas dari kewajiban mendidik anak. Soal Sekolah Dasar atau SD memang sangat penting. Karena dari sekolah SD, si anak akan bisa tulis baca dan semakin mudah mempelajari agama. Bagaimana pula sekolah SMP? Itu cuma tambahan untuk semakin mudah mengarungi kehidupan ini. Menyekolahkan ke SMA atau PTN maupun PTS juga cuma tambahan. Bukan lagi kewajiban si ayah. Jika itu merupakan kewajiban, maka akan berdosalah orang tua yang tidak mampu membiayai kuliah anaknya. Agama tidak membebani ummatnya dgn apa yang tak mampu ia lakukan.
Jika kita menyekolahkan sampai ke tingkat SMU maupun Perguruan Tinggi, itu hanya sedekah. Kita akan mendapat pahala jika menyekolahkan anak anak. Jika mereka sekolah dan sukses, maka merekapun akan semakin mudah menyekolahkan anak anak mereka. Tapi kalau soal kewajiban mendidik, hanya sampai fardu ain. Kalau soal menasehati, seumur hidup akan merupakan tanggung jawab kita untuk menasehati anak kita. Bila ada yang salah, kita wajib menasehatinya. Begitulah kira kira tanggung jawab si ayah pada anaknya dalam ajaran Islam.
Tujuan saya tulis catatan ini hanya untuk saling mengingatkan. Karena banyak saya lihat para orang tua, jika ia sudah menyekolahkan anaknya, dia tak lagi mentestnya. Padahal dia belum tahu apakah anaknya sudah tahu yang halal yang haram untuk dirinya. Apa yang wajib ia lakukan, apa yang sunat, apakah sholatnya sudah benar, begitu juga dgn cara mengambil wuduk dan semua yang termasuk dalam Fardu Ain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: