SUKA DUKA MENDAKI KE GUNUNG EMAS DI NAGA JUANG

Mengambil emas di gunung Naga Juang.

Batuan emas berantakan di lereng gunung Naga Juang. Para penduduk Mandailing Natal berdatangan mengambil batuan itu. Ada yang berhasil mendapatkan emas seharga 70 juta dgn hanya membawa batu sebesar lutut orang dewasa. Ada yang berhasil mendapatkan uang sebanyak 1,2 milyar dgn hanya membawa batu seberat 38 kg. Pokoknya banyak yang menjadi kaya raya mendadak, meski banyak juga yang salah bawa batu dan tidak mendapatkan apa apa. Itulah cerita yang tersebar di mana mana di Madina. Hujan emas sedang menghujani kecamatan Naga Juang Madina. Ribuan bahkan puluhan ribu orang datang berbondong bondong mendaki gunung itu. Sehingga ada banyak yang kaya mendadak dan ada yang belum mendapat tapì tetap terus mencoba pergi ke gunung tinggi itu untuk membawa batu, mengolahnya ke mesin gelundung yg bisa memisahkan emas dari batuan gunung itu. Jika belum berhasil, besoknya pergi lagi. Itulah yang membuat gunung Naga juang menjadi sangat ramai pada bulan Januari dan Februari 2012 ini.
Mendengar hujan emas begini siapa yang tidak suka. Inilah yang membuat saya dan teman teman berniat untuk naik gunung.
Pagi jam 06.30 kami dari kota Panyabungan.
Jam 08.30 kami telah tiba di ujung kampung Humbang Naga Juang tempat kami memarkir sepeda motor kami.
Mulai dari berjalan kaki ini kami mendaki kaki bukit dengan kemiringan 30 derajat. Tingkat kemiringan seperti itu kami lalui sampai dua jam lamanya. Dan yang dua jam itu masih merupakan setengah perjalanan. Setengah perjalanan selanjutnya sangat terjal. Kemiringan pendakiannya mencapai 80 derajat. Melihatnya saja sudah membuat nyali jadi ciut. Apalagi bagi seperti kami yang tidak terbiasa mendaki gunung. Karena ini kami memilih jalan melingkar walau lebih jauh. Tingkat
kemiringannya sekitar 70 derajat. Jalan inilah yang kami tempuh selama 2 jam sehingga lama perjalanan menjadi 4 jam agar tiba di tempat mengambil batuan emasnya.
Setelah sampai, saya dapat melihat markas Penambang emas resmi Sihayo Gold. Garis polisi ada dimana mana. Garis polisi ini merupakan pembatas yg masih boleh dilalui warga dan yang tidak boleh. Di daerah yang boleh inilah kami mondar mandir mencari batu yang sesuai selama 5 jam. Jika ditambah 4 jam lagi waktu menuju pulang, berarti kami telah berjalan 13 jam karena akan mengambil batuan emas ini. Luar biasa capeknya.

Lima jam di lokasi tambang ramai ramai itupun cukup melelahkan. Sengaja kami membawa air dan piring kecil sebagai alat test apakah batu yang kami ambil mengandung emas atau tidak. Batunya dipecah dan dihaluskan, lalu ditaruh di dalam piring kecil bersama air bersih secukupnya. Dikocok perlawan lahan, digoyang hingga menunjukkan tanda apakah batuan itu mengandung emas. Begitulah jika ingin mengetahui kandungan emas yang ada dalam batuan. Test demi test akhirnya tidak mendapat yg lebih baik. Akhirnya kami pergi ke pengambilan umum yang cukup ramai. Penduduk berebutan batu di gunung itu. Kami ambil secukupnya untuk dibawa pulang. Lokasi gunung ini nampaknya sudah di kapling kapling. Setiap kaplingan ada pemilinknya dan tidak boleh lagi orang lain mengambilnya. Jadi cuma yang belum dikapling saja yang boleh diambil masyarakat. Itupu  hanya sebatas yang kelihatan. Mungkin semua yang dikapling itu juga sudah merupakan lahan resmi Sihayo Gold atau Pt. Sorik Mas Mining. Tapi yang jelas begitulah keadaanya penambang resmi berjalan sesuai rencana mereka. Di kaki bukitnya banyak warga berdatangan mengambil batu untuk mendapatkan emas. Polisi juga banyak disana. Entah karena menjaga keamanan penambang resmi, atau karena menjaga garis polisi yang sudah banyak ditegangkan di bukit itu. Begitulah suasana di sekitar gunung yang mengandung emas di Naga Juang. Kami berada di lokasi tambang itu selama 5 jam. Udara cukup sejuk di puncak gunung. Tidak panas dan berawan. Ramainya bukan main. Semua saling mencari rezeki di puncak bukit ini.
Ketika jam sudah jam 5, akhirnya kami telah berencana pulang. Belum sempat beranjak dari tempat duduk, hujan sudah keburu datang. Lokasi menjadi licin. Apalagi jalan terjal yang kami lalui menjadi bertambah licin. Perjalanan semakin semakin sulit dan menakutkan. Jatuh terpeleset hingga 2 meter banyak merasa. Temanku sendiri ada yang terpeleset dan meluncur sejauh 20 meter. Untung dia tidak mati menabrak pokok  bambu yang banyak disana. Sepanjang perjalanan kami tak pernah berhenti dihantam hujan. Membuat badan menjadi cukup lelah dan penat.
Ketika hampir jam 9 malam, kamipun akhirnya tiba di perkampungan Humbang. Sepeda motor diambil lagi dan terus pulang. Begitulah sekilas cerita suka duka kami ketika berada di perjalanan menuju gunung emas di Naga Juang Madina Sumatera Utara.

Nama nama teman saya ketika berangkat ke Gunung Naga Juang:
1. Abd Basyid Panyabungan 2.
2. Mhd Martua Sipolu polu.
3. Usman Salambue.
4. Akhmad Rizal Sipolu polu.
5. Abng Aek mata.
6. Babere abng aek mata.
7. Ammar Husein Medan.
8. Adaran Tobing Tinggi.
9. Aprizal Kayu Jati.
10. Mhd Husein Barbaran.
11. Abd Rahman Panyabungan Julu.
12. Hafiz Pancinaran.
13. H. Samsul Gunung Tua.
14. Saya sendiri.

Ingin menonton cuplikan video tentang bagaimana situasi di puncak gunung emas naga juang, klik di link ini.

Salam buat teman teman seperjuangan dalam mengarungi sulitnya medan ke Naga Juang.

Gambar lainnya klik disini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: