KETIKA MENCARI PEROBATAN PERUT DI DAERAH LAIN

Setelah 24 hari menderita sakit perut, akhirnya kucoba pergi ke kota lain untuk melanjutkan perobatanku. Saya pergi bersama istri, anak bungsuku dan sopir kami. Di perjalanan ini, sengaja kulilitkan kain sarung di sekeliling perutku. Bermaksud agar angin yang berhembus tidak mengganggu perutku. Memang tidak ada jendela mobil yang terbuka. Tapi dalam keadaan sakit perut, sekecil apapun hembusan anginnya pasti terasa dan mengganggu.
2 jam tepat di perjalanan, kami telah tiba di Rumah Sakit Padang Sidempuan. Kami terus mendaftar sebagai pasien rawat jalan. Tak sampai 2 menit, nama sayapun dipanggil. Tak tahu kenapa begitu cepat. Padahal lebih dari 20 orang sudah lebih dulu antrian. Entah karena kami memang datang dari tempat yang jauh, atau karena kebetulan dr spesialis yang menangani saya keburu sekali melihatku. Kenapa saya bilang begitu? Karena ternyata nama dokter spesialis dalam itu punya nama yang sama denganku. Itu saya tahu karena ia sudah memandangku walau jarakku masih jauh dari meja kerjanya. Ia tersenyum memandangku. Namanya kubaca di atas mejanya. Disini saya ragu mungkin dia keburu melihat siapa pasien yang punya nama sama dengannya itu.
Sampai di ruang kerjanya, asistennya terus mencek tensi darah saya. 110, naik sedikit setelah berobat di kotaku. Dokter langsung memeriksa perutku. Menekannya di beberapa tempat untuk memeriksa. Lalu ia juga mengatakan penyakit saya mudah disembuhkan. Hanya karena gangguan angin saja. Saya tak begitu yakin. Apalagi sudah hampir sebulan penyakit ini menyerangku. Lalu saya mengeluhkannya. Tapi dia hanya mengatakan jangan menghitung berapa hari saya berpenyakit, itu tidak baik. Minum saja obatnya, pasti sembuh.
Saya lalu mengatakan bahwa saya jauh jauh kemari karena ingin diperiksa dengan Usg. Tapi kata dokter itu, tidak ada Usg di Rumah sakit ini. Hanya ada di prakteknya. Itupun buka mulai jam 5 sore. Lalu saya mengatakan kalau saya datang saja ke prakteknya sore nanti. Tapi dr spd ini mengatakan tak usah. Dengan obat ini kau akan sembuh. Ia mengatakan ini dengan senyum dan keramahan. Tapi saya datang hanya mengharapkan ceking yang tepat dengan penyakit yang saya derita. Inilah akhirnya yang saya peroleh. Tapi kuyakinkan diriku bahwa saya akan sembuh dengan obat yang ia berikan ini.

Di rumah sakit ini kami membayar 27.000 untuk pemeriksaan, kemudian membayar lagi obat obatan seharga 440.000 di apotek yang kalau tidak salah namanya apotek KPN.
Usai dari rumah sakit ini kami terus menuju rumah saudaraku di Kampung Tobat. Disinilah kami makan siang, dan disinipulalah pertama kali kukonsumsi obat dari rumah sakit yang baru saja kami tinggalkan. Rumah lain yang kami kunjungi dalam perjalanan ini adalah rumah mertuaku di Komplek DPR, rumah mitra bisnisku di Jalan Merdeka. Katanya ia baru saja pulang berobat dari Penang Malaysa. Dia masih sempat menunjukkan gambar Endoscopy organnya bagian dalam. Gambarnya berwarna dan bagus. Bukan hitam putih. Katanya alat seperti itu belum ada di Sidempuan. Dia juga menyarankan saya agar segera ke Penang. Disana pemeriksaannya lebih canggih. Sekali berobat di sana, penyakitnya tak pernah kambuh lagi. Idenya cukup bagus. Perlu menjadi satu pertimbangan yang harus saya pikirkan.
Selesai dari teman bisnisku, kami terus ke rumah bibiku di Pintu Padang Angkola, dan seterusnya melanjutkan perjalanan pulang hingga kembali ke kota dimana saya berdomisili.
Setelah saya mempergunakan obat ini, rasanya sama saja.
Perkembangannya cukup lamban.
Memang mungkin benar apa kata dokter spesialis di Panyabungan dan di Sidempuan. Saya terlalu banyak meminum minuman kaleng dan minuman botol. Sudah dari sejak tahun 1990 saya suka minuman semacam itu. Tapi sejak kedua dokter tempatku berobat menasehati saya, semuanya sudah terpaksa kuhentikan. Saya sudah berhenti meminum minuman kaleng yang katanya kurang bagus terhadap kesehatan. Saya tidak menjelekkan produk manapun, tapi itulah yang disarankan dokter pada saya.
Dua hari berlalu saya memakai obat medis dari Padang Sidempuan, saya mulai berpikir kalau sekarang sudah sebaiknya saya mengikuti perobatan tradisional. Semua ini terencana karena pelannya perubahan yang saya rasakan. Memang saya kurang suka obat obat kuno. Tapi karena lambatnya jalan menuju titik sembuh ini, akhirnya sudah kuputuskan untuk mulai berobat racikan obat kuno dan obat obatan dari paranormal.
Selanjutnya akan saya ceritakan mengenai obat tradisional dan obat racikan Mandailing kuno disini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: