PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI PEDALAMAN MANDAILING NATAL

Penyebaran Agama Islam ke Pelosok di Tanah Mandailing.

Tanah Mandailing, yang dulunya animisme, telah dirubah oleh penyebar agama Islam dari Sumatera Barat (semasa Indonesia masih dalam penjajahan Belanda). Daerah daerah strategis di Mandailhmg merupakan daerah pertama yang penduduknya masuk dalam ajaran Islam. Sedangkan daerah pedalaman menyusul belakangan untuk memeluk agama Islam ini. Bahkan ada lagi banyak warga Mandailing yang tidak menerima agama Islam pada masa itu. Mereka yang menolak Islam ini menyingkir ke daerah pegunungan seperti misalnya: desa Aek Mata, Siobon, Sopo Batu, Aek Banir, Siladang, dan ada menyingkir ke balik pegunungan hingga ke pinggir lautan. Desa itu akhirnya menjadi desa Tabuyung sekarang ini. Tapi ini hanya catatan sejarah. Semua penduduk desa yang saya tulis di atas sudah masuk ramai ramai ke dalam agama Islam tak lama setelah penolakannya. Memang agama Islam ini merupakan agama yang sangat toleran, damai, sangat menghormati kepercayaan yang lain, dan bahkan bisa dipikirkan secara logika. Karena itu sebagian warga Mandailing yang pada mulanya menolak Islam pada zaman dulu, akhirnya 100 % menjadi agama Islam. Tentunya semua ini memakan waktu yang tidak pendek. Apalagi pada desa desa yang agak terpencil. Buat desa terpencil seperti Aek Banir, penyiar agama Islam di desa ini bukan lagi dari Sumatera Barat yang kabarnya dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Tapi penyebarannya sudah dilakukan oleh anak suku Mandailing yang sudah lebih dulu masuk Islam.
Andil terbesar dalam penyampaikan agama Islam di Aek Banir Mandailing Natal adalah seorang bernama Tuan Syeh Abdul Mutotholib dari Manyabar (berada di Mandailing Natal juga). Bahkan Tuan Abdul Mutolib ini punya cerita aneh di Aek Banir. Pernah dulu warga Aek Banir mengatakan sangat kesulitan mendapatkan air di desa itu bila akan menjalankan perintah Islam seperti sholat. Lalu Abdul Mutholib menancapkan tongkat yang ia pakai pada antara akar pohon yang sangat kuat (banir). Dari hunjaman tongkatnya memancar air. Itu sebabnya desa ini disebut Aek Banir (air berasal dari pohon yang kuat). Dan sejak memancarnyalah aek banir ini penduduknya jadi pengikut Islam hingga sekarang.
Usaha penyebaran agama Islam ini juga sempat dilanjutkan anaknya Abdul Mutolib bernama Abdul Karim dan Abdul Rahim. Begitulah kira kira sekelumit cerita tentang Islam di Aek Banir yang merupakan salah satu pelosok di Madina atau Mandailing Natal).

Iklan

1 Response so far »


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: