TEMANKU HILANG KARENA UANG

Setelah kuterima panggilan nomor telepon tak dikenal itu, barulah saya tahu bahwa yang menelepon itu seorang dari sahabatku. Seorang dari teman yang terpaksa keluar dari kota kami tercinta karena beratnya kehidupan.
Dia meneleponku dengan kode area telepon yang belum pernah kukenal. Dia mengatakan bahwa dia telah jadi guide yang bekerja lepas pada sebuah hotel di jalan Sisingamangaraja Medan. Pendapatannya masih pas pasan buat makan. Kehidupannya telah berubah sejauh 180 derajat menuju keterpurukan moral. Tak pernah lagi menyembah yang kuasa, tak pernah lagi menjalankan aturan agama yang ia anut. Kini dia telah jadi manusia tanpa tujuan. Tak ada angan angan, tak ada perencanaan. Begitulah hidupnya untuk sementara ini.
Apa sebenarnya yang terjadi? Apa yang menyebabkan teman saya Cest Bon menjadi manusia tanpa arah?
Kutuliskan semua ini bukan bermaksud membeberkan rahasia temanku. Tapi saya hanya ingin menulis di lembaran wordpress ini dengan kisah seorang manusia. Siapa tahu bisa jadi pengajaran bagi orang yang mengunjungi halaman ini.
Simple saja, nama temanku Cest Bon adalah nama samaran. 3 tahun yang lalu dia masih punya ekonomi yang lumayan. Tapi ketika ia menikah dengan seorang gadis 17 tahun yang tak tamat SD. Akhirnya menejement usahanya jadi semberawut dan akhirnya usahanya tutup.
Sejak ini ia jadi luntang lantung dan tak kerja. Uang dipinjam disana dipinjam disini. Akhirnya bertimbun dan terpaksa bersembunyi pada setiap penagih yang datang meminta uangnya.
Lelah dengan meminjam uang yang tak tahu kapan mau dibayar, temanku makin malas kerja, hingga tak ada niat mau cari kerja lagi hingga hutang menjadi bukit yang membuatnya takut tidur dan juga dalam siangnya.
Istrinya sudah pada bulan tua kehamilannya, tapi ia sudah terpaksa hengkang karena sulitnya hidup dan karena frustrasi yang membelenggu semua rencananya. Ia akhirnya pergi meninggalkan semuanya, teman, anaknya, sahabatnya, keluarganya, dan segala galanya. Tapi kini teleponnya datang dengan kode wilayah tak kukenal. Tapi setelah ku check di Internat, ternyata dari Pangururan Pulau Samosir. Tapi ia berdusta dengan mengatakan bahwa ia tinggal di Medan. Rupanya ia meneleponku hanya karena mau tahu apakah istrinya sudah melahirkan. Dan ia juga meminta agar saya tak memberi tahu pada siapapun bahwa ia telah meneleponku. Ia hanya ingin tahu kelahiran anaknya. Katanya ia takkan kembali lagi kalau tak punya uang banyak. Begitulah rupanya kalau ekonomi kita hancur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: