BENARKAH BATAK MAKAN ORANG?

Benarkah suku Batak makan orang?
Dari sumber asing seperti Tiongkok, Arab, Eropah terdapat cerita Anthropopagis (memakan manusia) pada masyarakat Sumatera. Pada abad ke 5 s/d 6 telah dikenal dua daerah di Sumatera, yakni: Polos atau Pasai dan Balus atau Barus yang penduduknya adalah kannibal.
Ibn Khordadzbeh penjelajah asal Persia yang mengunjungi Rami atau Sumatera dan Balus pada tahun 851 mengatakan penduduk disini adalah pemakan orang.
Aja Ib Al Hind tahun 1000 dan Idrisi tahun 1165 juga menerangkan tentang cara hidup kannibal ini.
Marcopolo juga menegaskan mengenai masyarakat pagan, dan sebagian ketika dia mengunjungi Ferlech atau Perlak.
Sumber dari Nicolo de’ Conti pada tahun 1430 juga menceritakan tentang penduduk kannibal dan suka perang. Ini menyangkut perjalanannya menuju Sciamuthera atau samudra. Dia menyebut suku ini dengan sebutan: Batech (denagn maksud suku Batak).
Buku berjudul Peregrination 1539 oleh Mendes Pinto juga menyebutkan suku Bata (Denagn maksud suku Batak) memang ada. Ibukotanya adalah Panaju di pesisir barat laut Sumatera.
Selanjutnya, penyair Turki Sidi Ali Celebi menceritakan tentang komunitas manusia kannibal atau pemakan daging manusia yang hidup di bagian barat Sumatra.
Joa de Barros pada masa 1563 menyebut suku Batas sebagai masarakat kannibal dan hidup berhadapan dengan selat Malaka.
Agustin Bealieu yang berkunjung ke Aceh pada 1620 – 1621mengatakan penduduknya adalah Melayu dan dipegunungannya terdapat manusia pemakan orang.
Pada abad ke 17, F. De Haan seorang Tionghoa, dia juga menggambarkan rakyat Panda atau Bata yang suka makan manusia. Panda atau Bata ini hidup di sekitar sebelas hari perjalanan dari Barus.
Seterusnya tahun 1772. hamilton menyebut sungai Delley (sungai Deli) yang pesisirnya adalah masyarakat pemakan manusia.
Juga pada 1772 Charles Miller ketika memasuki pedalaman Tapanuli, disini dia menemukan suku Batas (Dengan maksud suku Batak) yang Kannibal punya bahasa berbeda dari seluruh bahasa di Sumatera.
Pada 1823, Jhon Anderson, seorang Eropah yang menelusuri pedalaman Sumatera, ia juga menemukan suku Batta, Mandiling, Kataran, Pappak, Tubba, Karau karau, Kapak, Alas. Dia mengatakan: Battas tribes are as follow: tribe Mandailing, Kataran or which are Rajah Seantar, Rajah Silow, Rajah Munto Panei and Rajah Tanah Jawa all canibals: tribe Karau karau kannibals. The Alas people are mussulmen.
Berdasar pendapat Marsden, tradisi Anthropopagis adalah bagian kepercayaan orang Batta (Dengan maksud suku Batak).
Kata Marsden: Tak cukup bukti cannibalisme di sumatera. Kalupun ada tapi sangat minim sekali sehingga tetap merupakan pertanyaan yang tak terjawab hingga sekarang.

Iklan

5 Tanggapan so far »

  1. 1

    Mannieba said,

    Soal kebenarannya, memang tak dapat dipastikan lagi. Sebab tidak ada rekaman videonya, tidak ada kelihatan tradisi itu berlanjut hingga kini. Dan tidak ditemui buku karangan belanda yang mengatakan ada suku pemakan manusia di tanah batak. Tapi soal pendapat dan cerita kannibal ini, 99 % masyarakat batak mengetahuinya. Entah karena betul makanya semua orang tahu, tak ada yang bisa memastikan. Ibu saya yang kebetulan bermarga hasibuan (Salah satu suku Batak) juga sering menceritakan hal ini ketika ia masih hidup. Tapi hanya cerita yang ia punya. Tak ada bukti dan saksi lagi yang bisa menguatkan cerita ini. Bila ditanya pada banyak orang batak, memang kebanyakan yang meyakini cerita ini. Tapi semua berpendapat bahwa semua itu terjadi sebelum agama masuk ke tanah batak. Dan sebagian orang mengatakan orang orang batak hanya memakan manusia bermata biru seperti penjelajah dari luar benua asia. Orang orang batak membantai dan memekan mereka karena mereka bermata biru dan tak mengetahui bahwa mereka adalah manusia biasa dari benua lain. Dan sebagian lagi mengatakan bila seseorang itu sudah tua, maka ia akan ditest untuk mencabut rumput sibaguri. Bila si tua ini tak lagi mampu mencabut rumput sibaguri ini, maka ia akan dimasak dan dimakan beramai ramai. Inilah salah satu cerita kuno dari tanah batak yang hingga hari ini masih jadi teka teki tentang kebenarannya. Tapi mungkinkah para orang tua kita berbohong tentang cerita ini pada anak anaknya? Mungkinkah nenek moyang suku batak yang terus menceritakan hal ini pada keturunannya adalah kebohongan semata? Tak ada yang mampu menjawab. Tapi leluhur batak pasti bukan pendusta. Salam buat semua kahanggi batak. Horas. Sai Mulajadi manghorasi hita sude. Horas horas horas.

    • 2

      Drsmangarahon Rambe said,

      Ada versi yang mengatakan bahwa pada zaman penjajahan dulu karena bencinya orang Batak terhadap penjajah yang notabene bermata biru,mereka menangkap pendeta Nomensen menyembelih serta menggulai dan memakannya ramai-ramai.Maka dikatakan orang batak makan orang.Itu saya dengar dari cerita orang tua-tua

  2. 3

    medysept91 said,

    Wallohu aklam.

  3. 4

    ediar buana said,

    Mengenai orang batak makan orang,sepertinya ada betulnya juga.Dulu,waktu saya masih SD (tahun 72) ada kejadian orang batak makan daging manusia.Namanya Japikir Sinaga,kejadiannya di kabupaten Simalungun.Saat itu saya masih kelas V SD negeri 13 P.Siantar.Peristiwa tersebut telah menggemparkan Sumatera Utara.Dan beberapa tahun kemudian,terjadi lagi kanibalisme di Suamtera Utara,di daerah Batak(saya lupa nama daerahnya).Pelakunya adalah Jatingkos Silalahi.Dan kedua kisah nyata ini dipublikasikan oleh media massa pada saat itu.Saya juga mengetahuinya dari harian Waspada.Oleh sebab itu,perlu kiranya ahli antropologi dari USU atau UNIMED untuk meneliti lebih jauh lagi.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: