PEMBAGIAN USIA MANUSIA MENURUT PURBA

Purba ni kudo, purba ni anjing, purba ni bodat.
Wow…. apa maksudnya?
Ini merupakan pembagian usia manusia menurut temanku seorang marga Tambungan asal Tanah Tombangan Tapanuli Selatan Sumut. Entah ini sesuai dengan adat Batak atau hanya pendapat pak Tambunan sayapun tak tahu pasti. Tapi dia pernah menceritakan ini pada saya sekitar 10 tahun yang lalu.
Pernah saya ingin menulisnya di Internet setelah saya jadi blogger. Tapi saya merasa kurang ingat dan ada sedikit lupa. Lalu kemarin setelah saya berjumpa dengan dia, saya kembali memperjelas arti tentang purba dan juga memperjelas pembagian usia manusia ini. Begini menurut pak Tambunan:
Usia manusia manusia terbagi dalam tiga bagian. Yaitu
Usia 0 s/d 50 tahun.
Usia 50 s/d 70 tahun.
Usia 70 s/d seterusnya.

Usia 0 – 50 tahun ini dinamakan purba ni kudo (dalam bahasa Batak: diibaratkan seekor kuda). Dimana dalam usia ini, manusia dibebani dengan tugas tugas berat. Mulai dari bersekolah, berkeluarga, mencari nafkah, menyekolahkan anak dan semua perjuangan dalam hidup ini dikerjakan dalam rentang usia tersebut. Karena itu dalam usia ini dikatakan seperti kuda yang diperas tenaganya.

Usia 50 – 70 tahun dinamakan purba ni anjing. (dalam bahasa Batak: diibaratkan seekor anjing). Dalam rentang usia ini diterangkan bahwa manusia kebanyakan tidak lagi aktif bekerja. Tujuan perjalanannya sehari hari hanya ketiga tempat. Yaitu:
Ke lopo atau warung kopi
Ke mesjid buat beribadat
Ke rumah untuk pulang.
Diibaratkan pak Tambunan perjalanan ini mirip seperti perjalanan anjing. Anjing hanya tahu ke rumah puangnya atau majikannya, ke kebun atau ke kebun majikannya, kemudian mencari makanan sesekali ke sekitar rumah majikannya. Karena itu usia manusia seperti ini dikatakan purba ni anjing.

Usia 70 hingga tutup usia dinamakan purba ni bodat. (dalam bahasa Batak: diibaratkan seekor monyet).
Dalam usia seperti ini, manusia tidak lagi suka hiruk pikuk kehidupan. Dia lebih suka ketenangan dan kedamaian. Banyak orang tua seusia ini minta dibangun sebuah gubuk kecil di belakang rumah anaknya. Agar dia bisa tenang tidur dan istirahat di gubuk itu. Giginya sudah ompong, kepalanya sudah botak dan ia juga sudah tak bisa kemana mana. Jika anak cucunya datang mengantarkan makanan untuknya ia hanya
meruncingkan bibirnya sambil bergumam ‘hum’
Begitu dalam kesehariannya. Karena itu pak Tambunan mengatakan mulut bapak tua ini seperti mulut monyet.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: