BATU TULIS GEREP DI SUMATERA UTARA

Aku tersenyum mendengar pertanyaan anakku. Dia bertanya apakah saya dulu memakai batu lei dan gerep untuk menulis di sekolah. Tentu saja saya tersenyum. Menurut orang orang tua yang saya tanya, menulis dengan batu gerep terakhir pada tahun 1960 di Panyabungan SUMATERA UTARA. Sedangkan saya masuk sekolah pada tahun 1978. Jadi saya tidak pernah menggunakan batu tulis gerep untuk menulis. Bahkan melihatnyapun belum pernah.
kalau ditinjau dari sudut kemajuan zaman, memang kehidupan di daerah Panyabungan sangat jauh tertinggal dengan negara negara luar. Sedangkan pada tahun yang sama sudah ada buku buku beredar di luar negeri. Buku buku yang terbuat dari bahan kertas. Bukan hanya buku pelajaran, tapi buku percintaan dan juga buku kisah peperangan juga sudah banyak beredar di Eropah. Seperti karangan John Master, Ernest Hamingway dan yang lainnya. Itulah kalau ditinjau dari sudut kemajuan zaman. Lalu kalau dari sudut kesejahteraan rakyat, dulu batu tulis dibagikan pada anak anak sekolah secara gratis. Kalau saya bandingkan dengan pada saat itu. Negara belum begitu maju tapi sudah bisa membagikan buku tulis dengan gratis pada masa itu, saya benar benar salut mendengar tulisannya. Sekarang juga memang sudah dibagikan buku buku paket pada anak sekolah. Tapi buku tulisnya belum. Semoga negara kita akan semakin maju lagi. Pertanyaan itu ada karena kebetulan anak saya belajar sejarah di sekolahnya. Mereka membicarakan mengenai batu tulis gerep pada zaman dulu.
By writer of Hajji Book:
40 Hari Di Tanah Suci
Thank you

Iklan

1 Response so far »

  1. 1

    andi said,

    saya dulu sekolah di kampung securai pangkalan berandan sumatera utara.saya sekolah rakyat tahun 1969 duduk dibangku kelas satu. saya dulu belajar memakai batu lei sampai kelas dua.makanya orang yang sekolah seleting saya pada tahun itu pintar2 semuanya.karena harus pandai menghafal pelajaran diluar kepala.
    jadi kalau sekarang itu diterapkan untuk siswa dizaman sekarang ini mungkin para siswa / siswi pintar2 semuanya.
    karena kalau saya lihat para guru dizaman sekarang ini belajar hanya memberikan pelajaran banyak menulis, lalu para gurunya keluar meininggalkan para murid2 nya diluar


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: